Syukur : Bahasa Iman Yang Dewasa
Syukur : Bahasa Iman Yang Dewasa
“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kolose 2:7).
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 28-31
Seorang wanita bernama Corrie ten Boom, yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah menceritakan pengalaman hidupnya yang mengguncang. Di tengah penderitaan yang begitu berat seperti kelaparan, penderitaan fisik, bahkan kehilangan orang-orang yang dikasihi, ia dan saudara perempuannya tetap memilih untuk bersyukur.
Bahkan, mereka mengucap syukur untuk kutu-kutu yang memenuhi barak mereka. Aneh, bukan? Namun, justru karena kutu-kutu itu, para penjaga enggan masuk, sehingga mereka memiliki kebebasan untuk berdoa dan membaca Alkitab bersama. Dari kisah ini kita belajar bahwa syukur bukanlah respons terhadap situasi ideal, melainkan ekspresi iman yang dewasa dalam segala keadaan.
Rasul Paulus dalam Kolose 2:7 menekankan bahwa kehidupan yang berakar di dalam Kristus akan menghasilkan hati yang “melimpah dengan syukur.” Kata “melimpah” menunjukkan kondisi yang berkelimpahan, bukan sekadar cukup. Ini berarti bahwa syukur adalah buah dari iman yang bertumbuh, bukan sekadar reaksi emosional sesaat. Orang percaya yang dewasa tidak menunggu keadaan baik untuk bersyukur, tetapi bersyukur karena ia tahu siapa yang memegang kendali hidupnya.
Iman yang dewasa memahami bahwa kedaulatan Allah tidak pernah salah. Syukur menjadi bahasa iman karena di dalamnya terdapat pengakuan bahwa Tuhan tetap baik, bahkan ketika hidup tidak terasa baik. Syukur juga merupakan bentuk penyembahan yang sejati, yaitu mengakui Tuhan sebagai sumber segala sesuatu, baik dalam kelimpahan maupun kekurangan.
Ada tiga aplikasi praktis yang dapat kita
lakukan yaitu:
Pertama, latih diri untuk bersyukur setiap hari,
bahkan dalam hal kecil.
Biasakan mencatat tiga hal yang dapat disyukuri setiap hari. Ini melatih
perspektif iman kita untuk melihat kebaikan Tuhan dalam detail kehidupan.
Kedua, ucapkan syukur dalam situasi sulit
sebagai tindakan iman, bukan perasaan. Jangan tunggu hati merasa baik. Ucapan syukur adalah
keputusan rohani yang mendewasakan iman kita.
Ketiga, jadikan syukur sebagai bagian dari doa dan penyembahan. Mulailah doa bukan dengan permintaan, tetapi dengan ucapan syukur. Ini menata hati kita agar selaras dengan kehendak Tuhan.
Syukur bukan sekadar etika rohani, melainkan indikator kedewasaan iman. Semakin seseorang bertumbuh di dalam Kristus, semakin ia mampu bersyukur dalam segala keadaan. Syukur adalah bahasa iman yang tidak bergantung pada keadaan, tetapi berakar pada pengenalan akan Allah yang setia.
Doa:
Tuhan Allah yang penuh
kasih, ajar kami untuk memiliki hati yang selalu bersyukur dalam segala
keadaan. Bentuklah iman kami agar semakin dewasa, sehingga kami tidak
tergantung pada situasi, tetapi pada kebenaran-Mu. Tolong kami melihat
kebaikan-Mu dalam setiap musim kehidupan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.🙏

Post a Comment for "Syukur : Bahasa Iman Yang Dewasa"