Menantikan Tuhan Dengan Sabar
Menantikan Tuhan Dengan Sabar ~ Landasan firman Tuhan untuk tema menantukan Tuhan dengan sabar diambil dari kitab Ratapan. Demikianlah sabda Tuhan, “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” (Ratapan 3:25-26).
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 26-27
Di sebuah ruang tunggu rumah sakit, seorang ibu duduk sendirian. Anaknya sedang menjalani operasi besar yang menentukan hidupnya. Jam demi jam berlalu. Tidak ada kabar. Tidak ada kepastian. Yang ada hanya keheningan dan detak jam yang terasa begitu lambat. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Dalam keheningan itu, ia berdoa. Air matanya jatuh, tetapi imannya tidak runtuh. Ia berkata pelan, “Tuhan, aku percaya Engkau baik.” Penantian itu berat, tetapi ia memilih berharap.
Kitab Ratapan ditulis dalam konteks kehancuran Yerusalem. Kota itu
hancur, bait Allah diruntuhkan, umat Israel dibuang. Secara manusiawi, tidak
ada alasan untuk optimis. Namun di tengah reruntuhan, muncul pengakuan iman
yang luar biasa: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya.” Kebaikan Tuhan tidak diukur
dari situasi yang terlihat, melainkan dari karakter-Nya yang tidak berubah.
Ayat 26 menegaskan, “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.” Kata “diam” bukan berarti pasif tanpa iman, melainkan sikap tenang yang bersandar penuh kepada Allah. Menanti dalam Alkitab selalu terkait dengan pengharapan aktif—sebuah kepercayaan bahwa Tuhan sedang bekerja sekalipun mata kita belum melihat hasilnya.
Sering kali kita ingin jawaban instan. Kita hidup di zaman serba cepat: pesan terkirim dalam hitungan detik, informasi tersedia dalam genggaman. Namun pekerjaan Tuhan tidak tunduk pada jadwal kita. Ia bekerja menurut waktu-Nya yang sempurna. Penantian adalah ruang pembentukan karakter, tempat iman dimurnikan dan hati dilatih untuk percaya lebih dalam.
Ada tiga aplikasi praktis bagi kita.
Pertama, tetap mencari Tuhan dalam penantian. Ayat 25 menyebutkan “bagi jiwa
yang mencari Dia.” Penantian bukan alasan untuk menjauh dari Tuhan, melainkan
kesempatan untuk mendekat. Gunakan waktu menunggu untuk berdoa, membaca firman,
dan membangun keintiman dengan-Nya.
Kedua, belajar diam dengan iman,
bukan dengan keluhan. Diam di hadapan
Tuhan berarti menyerahkan kecemasan kita kepada-Nya. Daripada terus-menerus
bersungut-sungut, latih hati untuk berkata, “Tuhan, Engkau tahu yang terbaik.”
Ketiga, percayalah pada kebaikan Tuhan, bukan pada keadaan. Situasi bisa berubah-ubah, tetapi karakter Tuhan tetap sama. Ia baik kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya. Keyakinan ini menjadi jangkar jiwa ketika ombak kehidupan mengguncang.
Menantikan Tuhan memang tidak selalu mudah. Namun di sanalah iman bertumbuh. Dalam penantian, kita belajar bahwa Tuhan bukan hanya pemberi jawaban, tetapi Pribadi yang setia menyertai.
Doa
Tuhan Allah yang setia, ajar kami menanti dengan sabar dan diam di hadapan-Mu. Ketika hati kami gelisah dan keadaan belum berubah, tolong kami tetap berharap kepada-Mu. Bentuklah iman kami dalam setiap penantian, dan kuatkan kami untuk percaya bahwa Engkau selalu baik. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.🙏
Post a Comment for "Menantikan Tuhan Dengan Sabar"