Ketika Pengharapan Hampir Padam
Ketika Pengharapan Hampir Padam ~ Landasan firman tuhan untuk tema ketika pengharapan hamper padam, diambil dari kitab Mazmur pasal 42 ayat 6. Beginilah sabda tuhan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Tuhan! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Tuhanku!”.
Seorang pria pernah bersaksi tentang masa tergelap dalam hidupnya. Ia adalah seorang kepala keluarga yang setia bekerja selama belasan tahun di sebuah perusahaan swasta. Namun tiba-tiba terjadi pemutusan hubungan kerja. Dalam hitungan minggu, tabungan menipis, cicilan menunggu, dan anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Ia merasa gagal. Setiap pagi ia bangun dengan perasaan berat, seolah-olah masa depan tertutup kabut tebal. Ia tetap berdoa, tetapi doanya terasa hampa. Sampai suatu malam, ketika membaca Mazmur pasal 42, ia tersentak oleh satu kalimat: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?” Ia menyadari bahwa Alkitab tidak menyembunyikan pergumulan batin. Bahkan seorang pemazmur pun pernah berada di titik hampir putus asa. Namun ayat itu tidak berhenti pada keluhan; ayat itu berlanjut dengan perintah: “Berharaplah kepada Tuhan!” Sejak malam itu, ia mulai belajar berbicara kepada jiwanya sendiri dengan mengarahkannya kembali kepada Tuhan.
Mazmur
pasal 42 adalah gambaran dinamika batin seorang percaya. Ada kerinduan, ada
air mata, ada ejekan dari luar, dan ada kegelisahan dari dalam. Pemazmur tidak
menyangkal tekanan itu. Ia menyebutnya dengan jelas: tertekan dan gelisah.
Tetapi yang menarik, ia tidak membiarkan perasaan itu menjadi suara terakhir.
Ia mengonfrontasi dirinya sendiri dengan kebenaran tentang Tuhan. Di sinilah
letak kekuatan rohani: bukan pada ketiadaan masalah, tetapi pada keputusan
untuk tetap berharap.
Pertama,
akuilah kondisi jiwa dengan jujur di hadapan Tuhan.
Iman yang sehat bukanlah iman yang menutup-nutupi luka. Pemazmur mengakui
kegelisahan batinnya. Kejujuran rohani adalah langkah awal pemulihan. Ketika
kita berpura-pura kuat, kita justru menjauh dari anugerah yang memulihkan. Datanglah kepada Tuhan apa adanya. Ia
tidak menolak hati yang remuk. Justru dalam pengakuan yang tulus, Roh Kudus bekerja
memulihkan dan menenangkan jiwa.
Kedua, arahkan kembali jiwa kepada
pengharapan yang benar.
Kata “berharaplah” menunjukkan tindakan aktif dan disengaja. Pengharapan
bukan sekadar optimisme psikologis, melainkan kepercayaan yang berakar pada
karakter Tuhan. Dunia menawarkan harapan yang rapuh yaitu bergantung pada
ekonomi, relasi, atau prestasi. Namun pengharapan kepada Tuhan berdiri di atas
kesetiaan-Nya yang kekal. Ketika situasi tidak berubah, kita tetap dapat
bersandar pada Dia yang tidak pernah berubah. Mengarahkan jiwa kepada Tuhan
berarti menundukkan pikiran dan emosi kepada kebenaran firman-Nya.
Ketiga, peliharalah memori iman tentang
pertolongan Tuhan.
Pemazmur berkata, “aku akan
bersyukur lagi kepada-Nya.” Ada nada keyakinan bahwa masa depan tidak akan
selamanya gelap. Ia mengingat bahwa Tuhan pernah menolongnya, dan Ia akan
melakukannya lagi. Mengingat karya Tuhan di masa lalu adalah bahan bakar bagi
pengharapan masa depan. Ketika kita menuliskan atau merenungkan pengalaman
pertolongan Tuhan, iman kita diperkuat. Kita belajar melihat bahwa kesetiaan-Nya
tidak pernah terputus.
Barangkali hari ini jiwa kita sedang letih. Mungkin doa terasa berat dan situasi belum menunjukkan perubahan. Namun Mazmur pasal 42 ayat 6 mengajarkan bahwa pengharapan bukanlah hasil dari keadaan yang ideal, melainkan keputusan iman di tengah tekanan. Ketika pengharapan hampir padam, jangan biarkan keputusasaan menjadi suara dominan. Berbicaralah kepada jiwamu. Arahkan kembali pandanganmu kepada Tuhan. Ia tetap Penolong dan Tuhanmu.
Mengakhiri renungan ini, saya mengajak kita berdoa, mari kita berdoa, Tuhan yang setia, Engkau melihat setiap kegelisahan dan tekanan dalam hati kami. Ketika jiwa kami tertekan dan pengharapan hampir padam, tolong kami untuk tidak menyerah. Ajarlah kami jujur di hadapan-Mu, menaruh kembali pengharapan kepada-Mu, dan mengingat setiap pertolongan-Mu dalam hidup kami. Bangkitkan iman kami agar kami dapat bersyukur kembali kepada-Mu sebagai Penolong dan Tuhan kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.
Post a Comment for "Ketika Pengharapan Hampir Padam"